Aku, Kamu dan Dia. Kita Punya Rasa yang Sama
Kepada "tuan rumahmu"
Aku menginginkan penghunimu, bukan hanya untuk semenit. Mungkin berhari-hari.
Aku ingin membawanya berlari, melucuti jalan pulang agar ia lupa kembali.
Bukan berarti aku ingin mencurinya, tapi ia terkesan lebih bahagia bila aku bersamanya.
Bukankah kau sebut itu cinta? Seperti pertama kali kalian membina.
Aku tak pernah menggodanya, juga tidak memaksa. Ia datang, mencari ruang, membangun bidang, mendirikan tahta, lalu menetap. Begitu saja.
Wahai si "tuan rumah", bolehkah aku mengikhlaskan? Bila setuju iya, aku dan dia segerakan.
(29 Agustus)
Komentar
Posting Komentar