Sebenarnya.

Jika mereka bilang ini mati rasa, aku tak sebegitunya merana. Aku masih mampu mendamba, merasa suka pada yang membuat terpana. Aku masih mampu memendam rindu, merasa ingin bertemu pada pemberi senyum penyapaku malu.
Aku masih pula merasa salah tingkah, pada dia yang tak pernah buat aku terpaksa.

Aku yakin bukan mati rasa. Aku hanya kehilangan percaya. Setelah sekali patah, semua takkan kembali sempurna.
Meski sekalipun tak ada manusia yang sama, siapa menjamin kisah menjadi berbeda?

Komentar

Postingan Populer